Blitar | Kpksigap.com – Perum Bulog terus memperkuat upaya menjaga stabilitas pangan nasional melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung. Program tersebut diharapkan mampu membantu peternak ayam petelur menekan biaya produksi di tengah fluktuasi harga telur yang masih terjadi.
Kepala Perum BULOG Kantor Cabang Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, mengatakan wilayah kerja Bulog Tulungagung memperoleh alokasi jagung SPHP terbesar di Indonesia. Hal itu disampaikannya saat ditemui di sela-sela kegiatan peringatan HUT Bhayangkara ke-80 di halaman Kantor Pemerintah Kota Blitar, Rabu (1/7/2026).
“Penerima SPHP jagung adalah peternak ayam petelur yang sudah tergabung dalam koperasi peternak terdaftar dan mendapat rekomendasi dari Dinas Peternakan setempat. Program ini memang diprioritaskan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan,” kata Yonas.
Menurut Yonas, secara nasional Bulog menyalurkan sekitar 240.000 ton jagung SPHP sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, 122.000 ton dialokasikan untuk wilayah Jawa Timur.
Khusus wilayah kerja Perum Bulog Kantor Cabang Tulungagung yang meliputi Blitar Raya, Tulungagung, dan Trenggalek, memperoleh alokasi sekitar 83.000 ton, atau menjadi alokasi terbesar dibandingkan kantor cabang Bulog lainnya di Indonesia.
“Wilayah kerja Bulog Tulungagung mendapatkan alokasi sekitar 83 ribu ton. Ini merupakan alokasi terbesar secara nasional dan penyalurannya berlangsung hingga akhir tahun,” ujarnya.
Ia berharap program SPHP Jagung dapat menjadi stimulus bagi peternak ayam petelur sehingga mampu mengurangi beban biaya pakan, yang selama ini menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi.
“Harapannya program ini dapat membantu peternak menekan biaya produksi sehingga tetap mampu bertahan di tengah kondisi harga telur yang belum stabil,” ucapnya.
Yonas menambahkan, Bulog juga menjalin kolaborasi dengan Kepolisian Republik Indonesia melalui program pembinaan petani jagung di Blitar Raya. Hasil panen dari petani binaan tersebut nantinya akan diserap Bulog sebagai bagian dari penguatan rantai pasok jagung nasional.
“Polri memiliki program pembinaan petani jagung. Hasil panennya diarahkan untuk diserap oleh Bulog sehingga petani memiliki kepastian pasar,” katanya.
Selain program jagung, Bulog kembali menggencarkan distribusi beras SPHP sebagai langkah mengendalikan harga beras di pasaran. Penyaluran dilakukan melalui berbagai saluran resmi, mulai pemerintah daerah, pasar murah, hingga bekerja sama dengan TNI dan Polri.
“TNI dan Polri menjadi salah satu saluran resmi penyaluran beras SPHP sesuai ketentuan yang berlaku. Gerakan SPHP kembali dimasifkan terutama di daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH),” ujar Yonas.
Ia memastikan kualitas beras SPHP terus diawasi secara ketat. Apabila masyarakat menerima beras dengan kualitas kurang baik, Bulog siap menggantinya.
“Jika masyarakat menerima beras yang kualitasnya kurang baik, silakan melapor melalui aparat desa. Nanti kami koordinasikan dengan petugas Korda untuk dilakukan penggantian,” katanya.
Menurut Yonas, Bulog melakukan pemantauan kualitas stok beras secara harian, mingguan, hingga bulanan. Berbagai langkah preventif seperti gassing, fogging, spraying, hingga fumigasi dilakukan apabila ditemukan indikasi serangan hama.
“Stok cadangan beras pemerintah juga dalam kondisi aman dan cukup hingga memasuki musim panen tahun depan,” ujarnya.
Sementara itu, untuk komoditas Minyakita, Bulog secara rutin melakukan distribusi ke pasar-pasar tradisional setiap pekan. Setiap pengecer resmi yang terdaftar melalui sistem Simirah rata-rata memperoleh pasokan minimal lima dus setiap minggu.
“Harga dari Bulog sebesar Rp14.500 per liter, sedangkan HET Minyakita Rp15.700 per liter. Sampai saat ini kami belum menemukan adanya penimbunan Minyakita. Kenaikan harga yang sempat ramai terjadi pada minyak premium, bukan Minyakita,” pungkas Yonas.
Redaksi | Pramono




