Konferensi Studi Nasional PMKRI Dorong Kedaulatan Pangan dan Keadilan Ekologis Menuju Indonesia Emas 2045

 

KPK http://Sigap.Com | 12 April 2026 Bogor

Konferensi Studi Nasional (KSN) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Thomas Aquinas merupakan ruang pembinaan formal bagi warga PMKRI secara nasional.

Kegiatan ini dilaksanakan satu kali dalam periodisasi kepengurusan di bawah tanggung jawab Pengurus Pusat PMKRI Presidium Pendidikan dan Kaderisasi.

Ket foto: Barisan PP PMKRI St. Thomas Aquinas periode 2024-2026

Untuk periode kali ini, Susana Kandaimu sebagai Ketua Presidium PP PMKRI St. Thomas Aquinas dan Marianus Humau sebagai Presidium Pendidikan dan Kaderisasi menggelar KSN di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Dalam laporan kegiatan, Ketua Panitia Yusuf Alfrenoldi Todi mengatakan pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045 menuntut sinergi antara pertumbuhan ekologis, ketahanan pangan, dan pelestarian lingkungan.

Yusuf mengatakan di tengah bonus demografi, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan meningkatkan produktivitas ketahanan nasional. Namun tantangan seperti ketimpangan akses sumber daya petani dan dampak perubahan iklim masih perlu dijawab bersama. Oleh karena itu, pembangunan harus berlandaskan keadilan ekologis dan berkelanjutan dengan keberpihakan pada masyarakat kecil serta penguatan ekonomi lokal.

“Melalui Konferensi Studi Nasional PMKRI di Kota Bogor dengan tema ‘Kedaulatan Pangan dan Keadilan Ekologis Menuju Indonesia Maju’ kami berharap forum ini menjadi ruang dialog yang produktif dalam melahirkan gagasan dan rekomendasi kebijakan yang nyata,” ujar Yusuf.

Sementara itu tuan rumah, Ketua Presidium Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PMKRI Cabang Bogor St. Joseph A Cupertino, Issac Frigu De Quirino, dalam sambutannya memberi ucapan selamat datang kepada semua anggota PMKRI dari berbagai cabang di Indonesia, dan juga Pengurus Pusat serta Dewan Pertimbangan PMKRI Pusat yang telah hadir bersama.

Ia mengawali sambutannya dengan mengatakan setiap bangsa yang besar memiliki satu fondasi yang kuat, yaitu kemampuan untuk memberi makan rakyatnya. Ia mengajukan pertanyaan sederhana: apakah Indonesia hari ini sudah berada pada titik itu?

“Kita sering bangga menyebut negeri kita adalah negeri agraris, tanah kita subur, laut kita luas. Namun setiap tahun saya melihat ada paradoks di sana. Kita selalu berbicara soal impor pangan, tetapi saya juga melihat bahwa ada sesuatu yang keliru di sana. Bukan tanah kita yang bermasalah, bukan juga petani kita yang malas, tetapi yang salah itu cara kita melihat bangsa ini,” ujarnya.

Issac Frigu melanjutkan, bahwa pangan diperlakukan sebagai komoditas, kemudian tanah diperlakukan sebagai objek eksploitasi.

Padahal kata Issac, pangan merupakan kedaulatan dan alam adalah fondasi kehidupan bangsa.

“Karena itu ketika kita berbicara tentang kedaulatan pangan dan keadilan ekologis hari ini, ini merupakan tema sangat mendasar. Kita bukan hanya berbicara tentang produksi, bukan juga berbicara soal distribusi, namun kita sedang berbicara martabat bangsa,” tuturnya di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (11/04/2026).

Paulus Jandwar selaku Anggota Dewan Pertimbangan (ADP) PMKRI Pusat yang hadir, dalam sambutannya mengatakan PMKRI sampai hari ini masih eksis dengan kehadiran PMKRI dari seluruh Indonesia, dari Indonesia bagian timur, Indonesia bagian tengah, dan Indonesia bagian barat.

Sebagai bentuk kecintaannya, Paulus Jandwar meninggalkan segala kesibukannya demi menghadiri kegiatan PMKRI, sembari memberi motivasi kepada seluruh kader PMKRI bahwa apa yang terjadi hari ini tidak akan sama dengan yang terjadi hari esok.

Mantan Ketua Presidium PMKRI Pusat periode 1985-1988 ini juga mengungkap rasa bangga dan apresiasi sebab PMKRI masih eksis sampai hari ini dan menggelar KSN dengan tema yang luar biasa.

Ketua Presidium Pengurus Pusat (PP) PMKRI St. Thomas Aquinas Susana Kandaimu, dalam sambutannya juga memberikan gambaran singkat mengenai tema yang diangkat oleh PMKRI.

Dikatakan bahwa tema tersebut lahir dari pergulatan pikiran, refleksi kritis, serta keprihatinan yang kolektif terhadap berbagai persoalan bangsa.

Penulis: Ana Funan
Editor Mursyidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *