TIDAK ADA KEJAYAAN ABADI
Oleh : Edi Danggur
Presiden Jokowi dielu-elukan di saat ia berkuasa. Bahkan di masa itu, ia dipuja bagai salah satu nabi dalam berbagai agama di masa lalu. Seolah-olah ia adalah presiden tanpa cacat-cela.
Tetapi, begitu ia tidak berkuasa lagi, dugaan kesalahan yang ia buat selama berkuasa mulai diungkap satu per satu. Ia diobok-obok oleh sebagian rakyatnya sendiri. Terasa tidak nyaman ia menikmati masa pensiunnya.
Masyarakat “menelanjangi” Jokowi dimulai dari hal-hal pribadi: ijazahnya. Ia dituduh menggunakan ijazah palsu dari UGM.
Bisnis Jokowi melalui geng AMPI (Anak, Menantu, Ponakan dan Ipar) diobok-obok, sampai dugaan korupsi selama mereka berkuasa.
Mungkin pada saat itu baru mereka ingat sebuah nasehat bijak, jika saat ini Anda memiliki kekuasaan dan dengan kekuasaan itu Anda bisa melakukan apa saja. Anda bisa memenjarakan orang, bisa menghentikan langkah karier dan menghilangkan jabatan orang.
Tetapi pada saat yang sama Anda seharusnya mengingat bahwa kejayaan dan kemuliaan yang datang dari kekuasaan itu tidaklah kekal abadi, ada batas waktunya dan bahkan dapat dihancurkan oleh keadaan.
Sebab, “akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”
Dalam buku berjudul _“The Book of Common Prayer”_ Thomas Cranmer, seorang teolog dan uskup Inggeris pada abad ke-16 mengatakan: _“Sic transit gloria mundi”_. Artinya, “Demikianlah kemuliaan dunia ini berlalu”. Frasa ini menekankan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidaklah kekal dan akan berakhir.
Apa pesan moral dan bagaimana frasa _“Sic transit gloria mundi”_ itu diimplementasikan dalam hidup kita sehari-hari?
Pesan Moral
Arti esensial dari frasa _”Sic transit gloria mundi”_ adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini, termasuk kemuliaan, kekuasaan, dan kekayaan, tidaklah kekal dan semuanya pasti akan berakhir atau ada akhirnya.
Frasa ini menekankan bahwa tidak ada yang dapat bertahan selama-lamanya di dunia ini. Semua akan mengalami perubahan dan kehancuran. Dengan begitu kita tidak boleh terlalu terikat dengan hal-hal duniawi, karena semua itu dapat hilang dalam sekejap.
Dalam konteks yang lebih luas, frasa ini juga dapat diartikan sebagai peringatan bagi kita untuk tidak terlalu percaya diri dengan kekuatan dan kemampuan sendiri.
Sebab semua itu dapat dihancurkan oleh keadaan. Kita harus selalu rendah hati dan mengakui bahwa kita tidak memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu.
Pesan moral utama dari frasa _”Sic transit gloria mundi”_ adalah bahwa kekayaan dan kekuasaan yang kita miliki bukanlah tujuan. Semua itu hanya sebagai sarana agar kita sampai pada tujuan kita diciptakan yaitu memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan kita.
Frasa ini juga menekankan bahwa kehidupan ini tidaklah kekal dan bahwa kita akan mati, sehingga kita harus melakukan hal-hal yang baik dan memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan baik.
*Implementasi*
Frasa _”Sic transit gloria mundi”_ dapat kita implementasikan dalam hidup harian kita:
_Pertama_, menyadari bahwa kehidupan ini tidaklah kekal dan bahwa kita akan mati.
Hal ini dapat membuat kita lebih bijak dalam mengambil keputusan dan memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan baik.
_Kedua_, kita tidak boleh terlalu terikat dengan hal-hal duniawi seperti kekayaan, kekuasaan, dan kemuliaan, karena semua itu dapat hilang dalam sekejap.
_Ketiga_, kita harus selalu siap menghadapi akhir dari semua kekayaan dan kekuasaan itu dan memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan baik.
_Keempat_, kita sebaiknya mengutamakan hal-hal yang kekal seperti membina hubungan yang erat dengan Tuhan, keluarga, dan persahabatan, karena semua itu tidak dapat dihancurkan oleh keadaan.
_Kelima_, selalu rendah hati dan mengakui bahwa kita tidak memiliki kontrol atas segala sesuatu. Kerendahan hati diwujudkan dengan tidak menyalahgunakan kekayaan dan kekuasaan selama berkuasa.
Di internal Gereja Katolik, frasa _”Sic transit gloria mundi”_ juga sering dihubungkan dengan upacara penobatan Paus di Roma, di mana frasa ini dibacakan sebagai pengingat kepada paus terpilih bahwa kemuliaan dunia ini tidaklah kekal.
_Penulis adalah seorang advokat, tinggal di Jakarta_




